Headlines

Hukum

Olahraga

Sosial



Cerpen Adi Zamzam (Republika, 2 Maret 2014)

SAAT mengambil jaket di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat kegamangan di kedua matanya. 
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa ia pernah berlagak seperti Tuhan,“ ketusku.
Lelaki itu tak peduli. Bergegas keluar meninggalkan diriku yang mulai digulung kecemasan.
***
Pertemanan suamiku dengan Rabbi konon sudah sejak SMP. Mereka sama-sama bintang dalam satu tim basket dan voli yang hampir-hampir tak terkalahkan di sekolah. Mereka sahabat dekat. Tapi, mereka memiliki perbedaan yang jauh sekali.
Suamiku seorang yang susah bergaul, teman akrabnya sedikit, kutu buku, penyuka sastra, bahkan sampai sekarang sebagian penghasilannya merupakan imbas dari kiprahnya sebagai salah seorang sastrawan kecil di negeri ini.
Beda dengan Rabbi, yang katanya pandai bergaul dan punya banyak teman di sana-sini. Sejak SMP dia sudah dikenal suka dengan namanya organisasi. Dua kali dia menjadi ketua OSIS. Konon, sewaktu SMA kisahnya juga tak beda jauh dengan semasa SMP. Jadi, kalau kemudian dia cemerlang di sebuah partai politik, tentu itu bukanlah hal yang mengherankan.
Setelah 20 tahun lebih tak bersua, akhirnya suamiku dipertemukan dengannya dalam sebuah kejadian yang mengharukan.
Suamiku mencari kerja. Singkat cerita, dia pun mendapatkan pekerjaan sebagai kuli angkut. Jika saja saat itu dia tidak pingsan saat memindahkan benih-benih jati ke atas truk, mungkin pertemuan itu takkan terjadi. Saat itu, suamiku sedang puasa Senin-Kamis. Insiden itu menghentikan sejenak sebagian pekerja. Kebetulan, Rabbi sedang meninjau poryek kecilnya itu. Mendengar keriuhan kecil itu, dia pun langsung mendatangi. Takdir pun berjalan.
Suamiku bercerita, katanya Rabbi sudah tak seperti dulu lagi. Tentu saja, 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah siapa pun. Lambat laun, dia pun menceritakan perihal semua perubahan yang semula hanya ia dengar dari teman-teman sepekerjaannya. Kata mereka, Rabbi itu pelit, perhitungan sekali, kadang-kadang jika sedang ”kumat“ suka menyunat upah, bahkan konon tak cuma sekali dua kali menendang pekerjanya yang berani mericuhinya.
”Tapi, aku masih belum percaya kalau dia seperti itu. Aku melihatnya masih seperti dulu. Dia baik kepadaku. Buktinya, sewaktu aku pingsan kemarin dia sendiri yang membawaku ke puskesmas dan menanggung semua biayanya,“ ceritanya dengan mata menerawang.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
”Semasa sekolah dulu, dia anak yang baik,“ seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Dan, hari-hari berikutnya suamiku pun mulai rekat dengan Rabbi. Mengerti bahwa suamiku punya kecerdasan, Rabbi pun perlahan memberinya kepercayaan dalam pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai berani memercayakan satu dua proyek yang berskala kecil. Aku sedikit bernapas lega ketika lelakiku perlahan mulai meninggalkan syair-syair omong kosongnya yang tak menjanjikan apa-apa itu. Tapi, justru sejak saat itulah suamiku mulai bisa melihat wajah asli Rabbi.
”Tadi siang aku bertengkar dengannya,” ujar suamiku di sebuah percakapan menjelang tidur.
Katanya, ia diserahi tugas penting pada sebuah proyek pembuatan jalan raya alternatif. ”Aku tidak bisa bohong. Aku tidak bisa memelintir ucapan,“ lanjutnya, setelah bercerita perihal tanah milik beberapa warga yang harus dibebaskan. Masalah penyunatan harga.
Hari-hari berikutnya kulihat suamiku jadi pendiam. Ia seperti sedang mengalami tekanan batin. Ia mau bercerita perihal masalah-masalah dalam pekerjaannya hanya jika aku bertanya saja. Bahwa, tadi ia baru saja mengantarkan uang pelicin proyek ke pegawai anu,bahwa kemarin ia telah memergoki penyunatan dana proyek anu, bahwa ia menyimpan banyak ketaksukaan yang ditekannya dalam hati.
Aku memergokinya lari ke puisi lagi. Tapi, ia tak berani mengirimkannya ke media cetak. Malu dengan teman-temannya, sewaktu kutanya mengapa. Ia hanya menumpahkan semua unek-uneknya itu di sebuah buku notes kecil, seperti kebiasannya dahulu.
”Kang Noto ingin pindah kerja?” tanyaku di suatu percakapan menjelang tidur.
”Tapi, sekolahnya anak-anak nanti bagaimana?”
Dan, aku mulai bisa memahami beban batinnya.
***
Hari-hari berjalan dengan banyak diam. Meski diam, tapi aku bisa merasakan gelisahnya yang tak juga mengendap. Aku pun ikut berpikir, mencari jalan keluar. Sampai akhirnya, kuputuskan rela berkorban.
”Jualan makan di pasar? Berapalah itu penghasilannya, Min?“ ujarnya saat kuceritakan penghasilanku yang sudah lumayan. Meski, hasilnya memang belum bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan.
”Jadi, Kang Noto akan tetap menjadi juru kampanyenya meski tahu semua kelakukannya?”
Lelaki itu menarik napas berat ketika aku bercerita bahwa tadi siang di pasar beberapa pengikut Rabby telah bagi-bagi uang demi pencalonan dirinya sebagai orang nomor satu di kota kami. Tentu saja, kami tahu itu sesuatu yang salah. Bau busuk langsung menguar. Beberapa orang tetap saja menerimanya, entah dengan keriangan yang pura-pura ataukah karena benar-benar mendukungnya.
”Aku anak buahnya, Min. Lantas aku bagaimana?“ ujarnya kemudian yang terdengar seperti pengakuan atas ketakberdayaannya sendiri.
Kesedihan jadi bertambah. Bahkan, terkadang berubah benci. Sampai-sampai, kadang aku melihatnya seperti banci. Tak berani pergi dari tempat yang menguarkan aroma busuk hanya sebab di tempat itu ia bisa bernaung dan menyangka di luar tak ada tempat lain yang bisa membuatnya bertahan dari terpa ujian kehidupan. Sayangnya, dia tetap suamiku, seorang ayah yang begitu ingin anak-anaknya aman dari kekurangan.
Puisi-puisinya yang dulu kusukai menjadi terasa menyebalkan. Seperti rengekan anak kecil. Suka menyesali dan menyalahkan diri sendiri. Apalagi, ketika Rabbi akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di kota kami.
Cerita-cerita tentang buruknya kelakuan Rabbi sedikit demi sedikit terus bertambah dalam ingatanku. Tapi, cerita-cerita itu tidak kudapatkan dari lelakiku, melainkan dari desas-desus di pasar dan berita-berita koran yang kemudian menjadi gunjingan ringan para tetangga.
Tentang penggusuran PKL dengan semena-mena, penggerogotan dana bantuan pemerintah pusat, dan masih banyak lagi. Kupikir, lelakiku juga telah sama-sama mendengar semua itu. Tapi, entahlah dengan jalan pikirannya.
***
Sepertiga malam yang hening ketika kulihat dia begitu gelisah. Hatiku menerka. Hatiku mencatatnya. Sebelum pagi harinya kemudian terjadi kerusuhan itu. Orang-orang yang sudah muak dengan kelakuan Rabbi mulai bereaksi. Segala bukti kesalahan, baik yang tampak maupun yang masih terselubung diumbar di muka umum.
Saat mengambil jaketnya di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi, yang pasti kami harus melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa dia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa dia pernah berlagak seperti Tuhan,“ ketusku.
Aku takkan pernah lupa dengan hari itu. Ketika lelakiku pulang dengan raut merah padam. Karena tak tahan, akhirnya dia pun cerita, ”Tadi siang kami bertengkar lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang dialah yang memberiku pekerjaan, yang memberi kita makan….“
Aku langsung mengurut dada, ”Benarkah dia bilang seperti itu?“
Lelakiku diam, tak berselera meneruskan ceritanya.
Rupanya, hari inilah keputusan itu ditetapkan. Siapakah yang sebenarnya Tuhan.
Sepeninggal lelakiku, aku terus berdoa dalam hati. Semoga Tuhan memberi ganti kepada kami, anugerah yang lebih baik dari sekarang. []
Kalinyamatan – Jepara, 2013
Adi Zamzam, memiliki nama asli Nurhadi. Pria kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, ini pada 2002 beberapa cerpen dan puisinya dipublikasikan di Bahana Sastra RRI Pro II Semarang. Ia juga menyabet sejumlah penghargaan penulisan cerpen Islami. Seperti, pada 2009 dan 2010 dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Karya-karyanya juga banyak menghiasi surat kabar nasional ataupun lokal.

 sumber lakon hidup


Cerpen Adi Zamzam (Republika, 2 Maret 2014)

SAAT mengambil jaket di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat kegamangan di kedua matanya. 
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa ia pernah berlagak seperti Tuhan,“ ketusku.
Lelaki itu tak peduli. Bergegas keluar meninggalkan diriku yang mulai digulung kecemasan.
***
Pertemanan suamiku dengan Rabbi konon sudah sejak SMP. Mereka sama-sama bintang dalam satu tim basket dan voli yang hampir-hampir tak terkalahkan di sekolah. Mereka sahabat dekat. Tapi, mereka memiliki perbedaan yang jauh sekali.
Suamiku seorang yang susah bergaul, teman akrabnya sedikit, kutu buku, penyuka sastra, bahkan sampai sekarang sebagian penghasilannya merupakan imbas dari kiprahnya sebagai salah seorang sastrawan kecil di negeri ini.
Beda dengan Rabbi, yang katanya pandai bergaul dan punya banyak teman di sana-sini. Sejak SMP dia sudah dikenal suka dengan namanya organisasi. Dua kali dia menjadi ketua OSIS. Konon, sewaktu SMA kisahnya juga tak beda jauh dengan semasa SMP. Jadi, kalau kemudian dia cemerlang di sebuah partai politik, tentu itu bukanlah hal yang mengherankan.
Setelah 20 tahun lebih tak bersua, akhirnya suamiku dipertemukan dengannya dalam sebuah kejadian yang mengharukan.
Suamiku mencari kerja. Singkat cerita, dia pun mendapatkan pekerjaan sebagai kuli angkut. Jika saja saat itu dia tidak pingsan saat memindahkan benih-benih jati ke atas truk, mungkin pertemuan itu takkan terjadi. Saat itu, suamiku sedang puasa Senin-Kamis. Insiden itu menghentikan sejenak sebagian pekerja. Kebetulan, Rabbi sedang meninjau poryek kecilnya itu. Mendengar keriuhan kecil itu, dia pun langsung mendatangi. Takdir pun berjalan.
Suamiku bercerita, katanya Rabbi sudah tak seperti dulu lagi. Tentu saja, 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah siapa pun. Lambat laun, dia pun menceritakan perihal semua perubahan yang semula hanya ia dengar dari teman-teman sepekerjaannya. Kata mereka, Rabbi itu pelit, perhitungan sekali, kadang-kadang jika sedang ”kumat“ suka menyunat upah, bahkan konon tak cuma sekali dua kali menendang pekerjanya yang berani mericuhinya.
”Tapi, aku masih belum percaya kalau dia seperti itu. Aku melihatnya masih seperti dulu. Dia baik kepadaku. Buktinya, sewaktu aku pingsan kemarin dia sendiri yang membawaku ke puskesmas dan menanggung semua biayanya,“ ceritanya dengan mata menerawang.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
”Semasa sekolah dulu, dia anak yang baik,“ seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Dan, hari-hari berikutnya suamiku pun mulai rekat dengan Rabbi. Mengerti bahwa suamiku punya kecerdasan, Rabbi pun perlahan memberinya kepercayaan dalam pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai berani memercayakan satu dua proyek yang berskala kecil. Aku sedikit bernapas lega ketika lelakiku perlahan mulai meninggalkan syair-syair omong kosongnya yang tak menjanjikan apa-apa itu. Tapi, justru sejak saat itulah suamiku mulai bisa melihat wajah asli Rabbi.
”Tadi siang aku bertengkar dengannya,” ujar suamiku di sebuah percakapan menjelang tidur.
Katanya, ia diserahi tugas penting pada sebuah proyek pembuatan jalan raya alternatif. ”Aku tidak bisa bohong. Aku tidak bisa memelintir ucapan,“ lanjutnya, setelah bercerita perihal tanah milik beberapa warga yang harus dibebaskan. Masalah penyunatan harga.
Hari-hari berikutnya kulihat suamiku jadi pendiam. Ia seperti sedang mengalami tekanan batin. Ia mau bercerita perihal masalah-masalah dalam pekerjaannya hanya jika aku bertanya saja. Bahwa, tadi ia baru saja mengantarkan uang pelicin proyek ke pegawai anu,bahwa kemarin ia telah memergoki penyunatan dana proyek anu, bahwa ia menyimpan banyak ketaksukaan yang ditekannya dalam hati.
Aku memergokinya lari ke puisi lagi. Tapi, ia tak berani mengirimkannya ke media cetak. Malu dengan teman-temannya, sewaktu kutanya mengapa. Ia hanya menumpahkan semua unek-uneknya itu di sebuah buku notes kecil, seperti kebiasannya dahulu.
”Kang Noto ingin pindah kerja?” tanyaku di suatu percakapan menjelang tidur.
”Tapi, sekolahnya anak-anak nanti bagaimana?”
Dan, aku mulai bisa memahami beban batinnya.
***
Hari-hari berjalan dengan banyak diam. Meski diam, tapi aku bisa merasakan gelisahnya yang tak juga mengendap. Aku pun ikut berpikir, mencari jalan keluar. Sampai akhirnya, kuputuskan rela berkorban.
”Jualan makan di pasar? Berapalah itu penghasilannya, Min?“ ujarnya saat kuceritakan penghasilanku yang sudah lumayan. Meski, hasilnya memang belum bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan.
”Jadi, Kang Noto akan tetap menjadi juru kampanyenya meski tahu semua kelakukannya?”
Lelaki itu menarik napas berat ketika aku bercerita bahwa tadi siang di pasar beberapa pengikut Rabby telah bagi-bagi uang demi pencalonan dirinya sebagai orang nomor satu di kota kami. Tentu saja, kami tahu itu sesuatu yang salah. Bau busuk langsung menguar. Beberapa orang tetap saja menerimanya, entah dengan keriangan yang pura-pura ataukah karena benar-benar mendukungnya.
”Aku anak buahnya, Min. Lantas aku bagaimana?“ ujarnya kemudian yang terdengar seperti pengakuan atas ketakberdayaannya sendiri.
Kesedihan jadi bertambah. Bahkan, terkadang berubah benci. Sampai-sampai, kadang aku melihatnya seperti banci. Tak berani pergi dari tempat yang menguarkan aroma busuk hanya sebab di tempat itu ia bisa bernaung dan menyangka di luar tak ada tempat lain yang bisa membuatnya bertahan dari terpa ujian kehidupan. Sayangnya, dia tetap suamiku, seorang ayah yang begitu ingin anak-anaknya aman dari kekurangan.
Puisi-puisinya yang dulu kusukai menjadi terasa menyebalkan. Seperti rengekan anak kecil. Suka menyesali dan menyalahkan diri sendiri. Apalagi, ketika Rabbi akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di kota kami.
Cerita-cerita tentang buruknya kelakuan Rabbi sedikit demi sedikit terus bertambah dalam ingatanku. Tapi, cerita-cerita itu tidak kudapatkan dari lelakiku, melainkan dari desas-desus di pasar dan berita-berita koran yang kemudian menjadi gunjingan ringan para tetangga.
Tentang penggusuran PKL dengan semena-mena, penggerogotan dana bantuan pemerintah pusat, dan masih banyak lagi. Kupikir, lelakiku juga telah sama-sama mendengar semua itu. Tapi, entahlah dengan jalan pikirannya.
***
Sepertiga malam yang hening ketika kulihat dia begitu gelisah. Hatiku menerka. Hatiku mencatatnya. Sebelum pagi harinya kemudian terjadi kerusuhan itu. Orang-orang yang sudah muak dengan kelakuan Rabbi mulai bereaksi. Segala bukti kesalahan, baik yang tampak maupun yang masih terselubung diumbar di muka umum.
Saat mengambil jaketnya di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi, yang pasti kami harus melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa dia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa dia pernah berlagak seperti Tuhan,“ ketusku.
Aku takkan pernah lupa dengan hari itu. Ketika lelakiku pulang dengan raut merah padam. Karena tak tahan, akhirnya dia pun cerita, ”Tadi siang kami bertengkar lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang dialah yang memberiku pekerjaan, yang memberi kita makan….“
Aku langsung mengurut dada, ”Benarkah dia bilang seperti itu?“
Lelakiku diam, tak berselera meneruskan ceritanya.
Rupanya, hari inilah keputusan itu ditetapkan. Siapakah yang sebenarnya Tuhan.
Sepeninggal lelakiku, aku terus berdoa dalam hati. Semoga Tuhan memberi ganti kepada kami, anugerah yang lebih baik dari sekarang. []
Kalinyamatan – Jepara, 2013
Adi Zamzam, memiliki nama asli Nurhadi. Pria kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, ini pada 2002 beberapa cerpen dan puisinya dipublikasikan di Bahana Sastra RRI Pro II Semarang. Ia juga menyabet sejumlah penghargaan penulisan cerpen Islami. Seperti, pada 2009 dan 2010 dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Karya-karyanya juga banyak menghiasi surat kabar nasional ataupun lokal.

 sumber lakon hidup


SATU demi satu temanku jatuh sakit. Ada yang sakit berkepanjangan, sakit sebentar, lalu menemui ajal. Ada yang harus dioperasi, sembuh, lalu meninggal juga. Ada yang sekarat, namun tetap bersemangat untuk terus eksis sebagai manusia, sebagai profesional.
Aku sendiri, memasuki usia 60, tak terlalu ingin ini-itu. Hanya ingin hidupku punya sedikit arti, dan di hari-hari menuju akhir ini bisa bernapas dengan lancar dan benar. Seumur hidup, baru sekarang aku diberi kesadaran, betapa pentingnya bisa bernapas. Sebelum ini, aku bernapas seolah-olah itu kegiatan rutin yang membosankan dan terpaksa harus dilakukan, karena aku diberi umur untuk hidup? Itu bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab Sang Pemberi Hidup. Tanggung jawab jantung dan paru-paruku, gen, dan kromosomku.
Aku sekadar mengikuti. Tak ubahnya sebuah mesin eksistensial, hanya menjalaninya sesuai sistem yang sudah tersedia untukku, tanpa boleh memilih atau mengoreksinya. Semuanya sudah terprogram sedemikian canggihnya.
Ketika tiba-tiba, pada suatu malam, aku merasa sulit bernapas, dan sepanjang malam hingga pagi dibuat tak bisa tidur, aku sungguh-sungguh tak habis pikir: bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada diriku, hidupku, napasku, jantung dan paru-paruku? Aku terhenyak. Aku merasa dizalimi. Tanpa izinku, tiba-tiba aku dibikin sesak napas. Berkeringat. Gelisah. Tak bisa tidur. Mimpi buruk!
Apalagi hal itu terus berlanjut hingga esok hari. Berulang lagi malam harinya. Hidupku amat tersiksa. Kamar dan tempat tidurku yang empuk dan sejuk pun seolah-olah berubah menjadi sarang hantu yang dipenuhi tangan-tangan setan pencekik. Aku takut! Untuk pertama kalinya, aku dibikin begitu takut menghadapi malam! Aku takut menghadapi waktu tidur!
Maka, aku lebih memilih tidur pagi dan siang hari, supaya kalau malam bisa melotot dan melewatinya tanpa ketakutan. Aku bawa laptopku ke tempat tidur. Juga buku-bukuku. Kubeli lampu baca supaya lebih nyaman membaca sambil berbaring. Televisi, mesin pemutar cakram video, koleksi film, kubawa semua ke lantai atas, ke kamar tidurku. Semuanya disiagakan agar aku bisa selamat melewati malam tanpa harus terperangkap mimpi buruk.
Gagang tombol kanal televisi selalu ditempatkan di sebelah bantalku. Dan baru sebulan ini aku menjadi penggila siaran sepak bola. Aku jadi penggila Lionel Messi dari Barcelona, sekaligus penggila Cristiano Ronaldo dan Real Madrid. Aku berharap setiap dini hari ada siaran langsung pertandingan bola, berharap laga-laga Piala Dunia segera dimainkan!
Aku segera konsultasi ke dokter spesialis jantung karena pertama-tama gejala yang kurasakan adalah jantungku berdetak tak beraturan. Aku mendapatkan obat pengatur detak jantung dan pelega pernapasan. Tapi, itu tidak terlalu menolong. Maka, aku pun pergi ke dokter spesialis paru. Aku dirontgen. Hasilnya, paruku mengalami infeksi dengan banyak bercak lendir. Jantungku membengkak karena harus bekerja terlalu keras memompa darah ke dalam paru yang kembang-kempis dengan berat akibat saluran oksigen yang menyempit.
Dokter paru itu memberiku obat pelega pernapasan yang manjur. Menenggak beberapa obatnya sekali saja, aku bisa bernapas lebih baik dan jatuh tertidur. Bahkan, kata istriku, aku sudah bisa mengorok lagi. Satu hal yang sebenarnya tak ingin kuungkapkan di sini adalah fakta ini: aku sudah menjadi perokok berat sejak remaja. Bahkan, aku menjadi pecandu beberapa jenis dan merek rokok sekaligus: rokok keretek ringan, rokok keretek berat, dan rokok putih. Setiap hari aku mengisap tiga jenis rokok secara bergantian, tergantung suasana mulut dan suasana hati, hingga datangnya hari-hari aku tercekik setan pernapasan. Oleh karena itu, aku lalu dipaksa berhenti merokok!
Pekan lalu itu, ketika sedang antre menunggu di depan pintu kamar praktik dokter jantung, dokter Ma’mun, di rumah sakit, aku dan istriku sempat bertemu dokter anak-anak kami yang sudah begitu karib, dokter Heru. Melihat dia berjalan ke arah kami, kelihatannya dia baru saja selesai dinas, aku menyapanya. Melihat kami dengan riang dan hangat seperti biasanya, dia langsung bertanya:
“Lo, ngapain di sini, Mas? Siapa yang sakit?”
“Aku sesak napas, Dok. Mau periksa jantung,” kataku.
Dokter Heru langsung duduk dan bertanya penuh perhatian. Kami jelaskan duduk soalnya. Dia tertawa. “Kalau enggak mau mati konyol, ya berhentilah merokok!” katanya. “Selain itu, jangan lupa, setiap siang usahakan bisa tidur sekitar satu atau dua jam. Olahraga lakukan secara teratur. Aku saja tiap hari olahraga boxing,” katanya lagi.
***
“Ya, ada bocor kecil di jantung,” kata dokter Ma’mun setelah dengan teliti memeriksaku dengan bantuan alat rekam detak jantung. “Tapi, tenang saja. Itu tidak akan bikin mati!” katanya.
Kami tertawa.
“Dia merokoknya harus berhenti kan ya, Dok?!” kata istriku yang begitu benci melihatku tak kunjung berhenti merokok. Padahal, lebih dari lima tahun lalu kami berjanji berhenti merokok. Istriku berhasil berhenti merokok, tapi aku terus berlanjut. Istriku berhenti merokok setelah mengalami sesak napas dan bertemu dokter Ma’mun yang juga menemukan kebocoran pada jantungnya.
“Memangnya harus ya merokok?” tanya dokter Ma’mun.
“Ya, enggak harus sih, Dok,” sahutku sambil menyeringai.
“Lah, kalau enggak harus, kenapa merokok?”
Aku cuma bisa tertawa bodoh.
Ya, ya, ya aku tahu dan aku sadar, sebagai perokok, aku memang bodoh. Merokok memang bukan suatu keharusan. Hanya orang-orang bodoh yang sepenuh kesadaran terus merokok dan sengaja tidak mau berhenti! Padahal, sekarang peringatan di setiap bungkus rokok sudah lebih langsung memvonis: ‘Merokok Membunuhmu!’
Tapi, begitu banyak lelucon yang membela para perokok: Tak pernah ada orang mati sambil merokok. Banyak orang mati yang seumur hidupnya tidak merokok. Banyak orang yang berhenti merokok dan malah mati. Banyak nenek-nenek dan kakek-kakek yang masih hidup karena terus merokok. Banyak bayi yang baru lahir mati, padahal mereka belum sempat merokok. Yang membunuhmu bukan rokok, tapi tsunami, banjir, longsor, bus malam, kereta api, pesawat terbang, sepeda motor, demam berdarah, HIV, gula, duren, satai kambing!
Tapi, setelah bertemu dokter Heru dan dokter Ma’mun, dan aku berhasil tidak merokok selama seminggu–itu membuatku merasa jauh lebih bodoh!–aku heran juga. Ternyata begitu mudah berhenti merokok. Aku berhasil tidak merokok! Aku kagum juga pada diriku. Kagum campur tolol. Aku tertawa.
(Jadi, serius nih, tidak mau merokok lagi?)
Diam-diam, tanpa setahu istri dan ketiga anak kami–yang semuanya sudah menjadi komplotan petugas antirokok yang galak di rumah–aku coba merokok lagi. Malam itu aku sukses menghabiskan tiga batang rokok dalam isapan cepat-cepat. Setiap kali berhasil menghabiskan satu batang, segera aku semprotkan pengharum ruangan. Sebelum naik ke tempat tidur, aku sikat gigi, cuci muka dengan sabun wangi dan berganti baju tidur. Malam itu, aku dengan bahagia menyongsong tidurku.
Dan, benar! Malam itu dadaku serasa terbakar! Dadaku terasa mengeras dan memberat. Aku tercekik lagi. Napasku sesak lagi. Tidurku jadi mimpi buruk lagi!
Sepanjang malam itu, aku berjuang sendirian. Sebab, untuk meminta tolong kepada istriku, aku malu.
Aku memasuki pagi dengan wajah pucat pasi, napas tersengal-sengal, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, pusing. Karena tak tahan menderita lebih lama, aku segera membuat pengakuan dosa dan memohon bantuan istriku untuk segera membawaku ke dokter spesialis paru, di rumah sakit baru, yang lebih dekat dengan rumah kami. Maka, bertemulah aku dengan dokter Etty, dokter paru yang merontgen dan memberiku obat pelega pernapasan yang sangat manjur itu.
Seminggu kemudian, aku memilih menjadi manusia bodoh lagi. Aku uji nyali dan uji paru lagi. Kali ini di pagi hari. Aku coba kebiasaan lama, setiap hendak nongkrong di kamar mandi, aku bawa sebatang rokok. Aku menyalakannya sambil berjongkok. Hfffhhh… ternyata memang….
Sekali lagi, seperti yang kalian duga, tujuh jam kemudian aku terbangun dari tidur siangku dengan basah keringat. Jantungku berdegup tak beraturan lagi.
“Kamu kenapa, sesak lagi?“ istriku bertanya tanpa curiga. Penuh cinta.
“Sesak sih, enggak. Cuma detak jantungnya kacau lagi,“ kataku. Aku segera ambil alat deteksi tekanan darah digital. Hasilnya: tensi tinggi dan denyut nadi melebihi normal.
“Aku juga dulu begitu,“ katanya menghibur. “Tidak apa-apa. Yang penting jangan cemas. Kondisi seperti itu akan berulang lagi.“
“Oke. Terima kasih, darling,“ kataku.
Aku diam-diam menggunakan penyemprot pelega pernapasan melalui mulut agar mendapatkan pemulihan segera.
Beberapa waktu kemudian, begitu istriku masuk lagi ke kamar, dan berdandan di depan cermin, aku memeluknya dari belakang sambil berbisik, “Kita jadi makan malam di luar, sayangku?“
“Enggak usah, deh. Papa istirahat saja dulu,“ katanya. “Mama takut nanti ada apa-apa.“
Yo wis… Besok aja ya,“ kataku. “Sekalian malam mingguan. Makan di restoran Korea, ya.“ Aku lega dan selamat dari bencana.
Malam itu aku naik ke tempat tidur lebih awal. Aku membawa biografi Einstein, fisikawan perokok yang bisa hidup hingga 76 tahun. Ia menolak dioperasi akibat sakit menahun di perutnya. “Tak ada gunanya memperpanjang hidup dalam kepalsuan,“ katanya. “Aku sudah menyelesaikan bagianku. Sekarang saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya dengan elegan.“
Tapi, sungguh, aku cemas napasku tersengal lagi!

Bekasi, 2014
Yudhistira ANM Massardi adalah sastrawan yang telah berkarya sejak 1977. Kini ia mengelola sekolah gratis untuk kaum duafa.
sumber lakon hidup