”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa ia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Lelaki itu tak peduli. Bergegas keluar meninggalkan diriku yang
mulai digulung kecemasan.
***
Pertemanan suamiku dengan Rabbi konon sudah sejak SMP. Mereka
sama-sama bintang dalam satu tim basket dan voli yang hampir-hampir tak
terkalahkan di sekolah. Mereka sahabat dekat. Tapi, mereka memiliki perbedaan
yang jauh sekali.
Suamiku seorang yang susah bergaul, teman akrabnya sedikit, kutu
buku, penyuka sastra, bahkan sampai sekarang sebagian penghasilannya merupakan
imbas dari kiprahnya sebagai salah seorang sastrawan kecil di negeri ini.
Beda dengan Rabbi, yang katanya pandai bergaul dan punya banyak
teman di sana-sini. Sejak SMP dia sudah dikenal suka dengan namanya organisasi.
Dua kali dia menjadi ketua OSIS. Konon, sewaktu SMA kisahnya juga tak beda jauh
dengan semasa SMP. Jadi, kalau kemudian dia cemerlang di sebuah partai politik,
tentu itu bukanlah hal yang mengherankan.
Setelah 20 tahun lebih tak bersua, akhirnya suamiku dipertemukan
dengannya dalam sebuah kejadian yang mengharukan.
Suamiku mencari kerja. Singkat cerita, dia pun mendapatkan
pekerjaan sebagai kuli angkut. Jika saja saat itu dia tidak pingsan saat
memindahkan benih-benih jati ke atas truk, mungkin pertemuan itu takkan
terjadi. Saat itu, suamiku sedang puasa Senin-Kamis. Insiden itu menghentikan
sejenak sebagian pekerja. Kebetulan, Rabbi sedang meninjau poryek kecilnya itu.
Mendengar keriuhan kecil itu, dia pun langsung mendatangi. Takdir pun berjalan.
Suamiku bercerita, katanya Rabbi sudah tak seperti dulu lagi.
Tentu saja, 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah siapa pun. Lambat
laun, dia pun menceritakan perihal semua perubahan yang semula hanya ia dengar
dari teman-teman sepekerjaannya. Kata mereka, Rabbi itu pelit, perhitungan
sekali, kadang-kadang jika sedang ”kumat“ suka menyunat upah, bahkan konon tak
cuma sekali dua kali menendang pekerjanya yang berani mericuhinya.
”Tapi, aku masih belum percaya kalau dia seperti itu. Aku
melihatnya masih seperti dulu. Dia baik kepadaku. Buktinya, sewaktu aku pingsan
kemarin dia sendiri yang membawaku ke puskesmas dan menanggung semua biayanya,“
ceritanya dengan mata menerawang.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
”Semasa sekolah dulu, dia anak yang baik,“ seolah ingin meyakinkan
dirinya sendiri.
Dan, hari-hari berikutnya suamiku pun mulai rekat dengan Rabbi.
Mengerti bahwa suamiku punya kecerdasan, Rabbi pun perlahan memberinya
kepercayaan dalam pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai berani
memercayakan satu dua proyek yang berskala kecil. Aku sedikit bernapas lega
ketika lelakiku perlahan mulai meninggalkan syair-syair omong kosongnya yang
tak menjanjikan apa-apa itu. Tapi, justru sejak saat itulah suamiku mulai bisa
melihat wajah asli Rabbi.
”Tadi siang aku bertengkar dengannya,” ujar suamiku di sebuah
percakapan menjelang tidur.
Katanya, ia diserahi tugas penting pada sebuah proyek pembuatan
jalan raya alternatif. ”Aku tidak bisa bohong. Aku tidak bisa memelintir
ucapan,“ lanjutnya, setelah bercerita perihal tanah milik beberapa warga yang
harus dibebaskan. Masalah penyunatan harga.
Hari-hari berikutnya kulihat suamiku jadi pendiam. Ia seperti
sedang mengalami tekanan batin. Ia mau bercerita perihal masalah-masalah dalam
pekerjaannya hanya jika aku bertanya saja. Bahwa, tadi ia baru saja
mengantarkan uang pelicin proyek ke pegawai anu,bahwa kemarin ia telah
memergoki penyunatan dana proyek anu,
bahwa ia menyimpan banyak ketaksukaan yang ditekannya dalam hati.
Aku memergokinya lari ke puisi lagi. Tapi, ia tak berani
mengirimkannya ke media cetak. Malu dengan teman-temannya, sewaktu kutanya
mengapa. Ia hanya menumpahkan semua unek-uneknya itu di sebuah buku notes kecil, seperti kebiasannya dahulu.
”Kang Noto ingin pindah kerja?” tanyaku di suatu percakapan
menjelang tidur.
”Tapi, sekolahnya anak-anak nanti bagaimana?”
Dan, aku mulai bisa memahami beban batinnya.
***
Hari-hari berjalan dengan banyak diam. Meski diam, tapi aku bisa
merasakan gelisahnya yang tak juga mengendap. Aku pun ikut berpikir, mencari
jalan keluar. Sampai akhirnya, kuputuskan rela berkorban.
”Jualan makan di pasar? Berapalah itu penghasilannya, Min?“
ujarnya saat kuceritakan penghasilanku yang sudah lumayan. Meski, hasilnya
memang belum bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan.
”Jadi, Kang Noto akan tetap menjadi juru kampanyenya meski tahu
semua kelakukannya?”
Lelaki itu menarik napas berat ketika aku bercerita bahwa tadi
siang di pasar beberapa pengikut Rabby telah bagi-bagi uang demi pencalonan
dirinya sebagai orang nomor satu di kota kami. Tentu saja, kami tahu itu
sesuatu yang salah. Bau busuk langsung menguar. Beberapa orang tetap saja
menerimanya, entah dengan keriangan yang pura-pura ataukah karena benar-benar
mendukungnya.
”Aku anak buahnya, Min. Lantas aku bagaimana?“ ujarnya kemudian
yang terdengar seperti pengakuan atas ketakberdayaannya sendiri.
Kesedihan jadi bertambah. Bahkan, terkadang berubah benci.
Sampai-sampai, kadang aku melihatnya seperti banci. Tak berani pergi dari
tempat yang menguarkan aroma busuk hanya sebab di tempat itu ia bisa bernaung
dan menyangka di luar tak ada tempat lain yang bisa membuatnya bertahan dari
terpa ujian kehidupan. Sayangnya, dia tetap suamiku, seorang ayah yang begitu
ingin anak-anaknya aman dari kekurangan.
Puisi-puisinya yang dulu kusukai menjadi terasa menyebalkan.
Seperti rengekan anak kecil. Suka menyesali dan menyalahkan diri sendiri.
Apalagi, ketika Rabbi akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di kota kami.
Cerita-cerita tentang buruknya kelakuan Rabbi sedikit demi sedikit
terus bertambah dalam ingatanku. Tapi, cerita-cerita itu tidak kudapatkan dari
lelakiku, melainkan dari desas-desus di pasar dan berita-berita koran yang
kemudian menjadi gunjingan ringan para tetangga.
Tentang penggusuran PKL dengan semena-mena, penggerogotan dana
bantuan pemerintah pusat, dan masih banyak lagi. Kupikir, lelakiku juga telah
sama-sama mendengar semua itu. Tapi, entahlah dengan jalan pikirannya.
***
Sepertiga malam yang hening ketika kulihat dia begitu gelisah.
Hatiku menerka. Hatiku mencatatnya. Sebelum pagi harinya kemudian terjadi
kerusuhan itu. Orang-orang yang sudah muak dengan kelakuan Rabbi mulai
bereaksi. Segala bukti kesalahan, baik yang tampak maupun yang masih terselubung
diumbar di muka umum.
Saat mengambil jaketnya di lemari, wajah lelakiku kentara sekali
tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi, yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa dia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa dia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Aku takkan pernah lupa dengan hari itu. Ketika lelakiku pulang
dengan raut merah padam. Karena tak tahan, akhirnya dia pun cerita, ”Tadi siang
kami bertengkar lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang dialah yang
memberiku pekerjaan, yang memberi kita makan….“
Aku langsung mengurut dada, ”Benarkah dia bilang seperti itu?“
Lelakiku diam, tak berselera meneruskan ceritanya.
Rupanya, hari inilah keputusan itu ditetapkan. Siapakah yang
sebenarnya Tuhan.
Sepeninggal lelakiku, aku terus berdoa dalam hati. Semoga Tuhan
memberi ganti kepada kami, anugerah yang lebih baik dari sekarang. []
Kalinyamatan
– Jepara, 2013
Adi Zamzam,
memiliki nama asli Nurhadi. Pria kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, ini pada
2002 beberapa cerpen dan puisinya dipublikasikan di Bahana Sastra RRI Pro II Semarang. Ia juga
menyabet sejumlah penghargaan penulisan cerpen Islami. Seperti, pada 2009 dan
2010 dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE
Selsun Golden Award. Karya-karyanya juga banyak menghiasi surat kabar nasional
ataupun lokal.
Cerpen Adi Zamzam (Republika, 2 Maret
2014)
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa ia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Lelaki itu tak peduli. Bergegas keluar meninggalkan diriku yang
mulai digulung kecemasan.
***
Pertemanan suamiku dengan Rabbi konon sudah sejak SMP. Mereka
sama-sama bintang dalam satu tim basket dan voli yang hampir-hampir tak
terkalahkan di sekolah. Mereka sahabat dekat. Tapi, mereka memiliki perbedaan
yang jauh sekali.
Suamiku seorang yang susah bergaul, teman akrabnya sedikit, kutu
buku, penyuka sastra, bahkan sampai sekarang sebagian penghasilannya merupakan
imbas dari kiprahnya sebagai salah seorang sastrawan kecil di negeri ini.
Beda dengan Rabbi, yang katanya pandai bergaul dan punya banyak
teman di sana-sini. Sejak SMP dia sudah dikenal suka dengan namanya organisasi.
Dua kali dia menjadi ketua OSIS. Konon, sewaktu SMA kisahnya juga tak beda jauh
dengan semasa SMP. Jadi, kalau kemudian dia cemerlang di sebuah partai politik,
tentu itu bukanlah hal yang mengherankan.
Setelah 20 tahun lebih tak bersua, akhirnya suamiku dipertemukan
dengannya dalam sebuah kejadian yang mengharukan.
Suamiku mencari kerja. Singkat cerita, dia pun mendapatkan
pekerjaan sebagai kuli angkut. Jika saja saat itu dia tidak pingsan saat
memindahkan benih-benih jati ke atas truk, mungkin pertemuan itu takkan
terjadi. Saat itu, suamiku sedang puasa Senin-Kamis. Insiden itu menghentikan
sejenak sebagian pekerja. Kebetulan, Rabbi sedang meninjau poryek kecilnya itu.
Mendengar keriuhan kecil itu, dia pun langsung mendatangi. Takdir pun berjalan.
Suamiku bercerita, katanya Rabbi sudah tak seperti dulu lagi.
Tentu saja, 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah siapa pun. Lambat
laun, dia pun menceritakan perihal semua perubahan yang semula hanya ia dengar
dari teman-teman sepekerjaannya. Kata mereka, Rabbi itu pelit, perhitungan
sekali, kadang-kadang jika sedang ”kumat“ suka menyunat upah, bahkan konon tak
cuma sekali dua kali menendang pekerjanya yang berani mericuhinya.
”Tapi, aku masih belum percaya kalau dia seperti itu. Aku
melihatnya masih seperti dulu. Dia baik kepadaku. Buktinya, sewaktu aku pingsan
kemarin dia sendiri yang membawaku ke puskesmas dan menanggung semua biayanya,“
ceritanya dengan mata menerawang.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
”Semasa sekolah dulu, dia anak yang baik,“ seolah ingin meyakinkan
dirinya sendiri.
Dan, hari-hari berikutnya suamiku pun mulai rekat dengan Rabbi.
Mengerti bahwa suamiku punya kecerdasan, Rabbi pun perlahan memberinya
kepercayaan dalam pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai berani
memercayakan satu dua proyek yang berskala kecil. Aku sedikit bernapas lega
ketika lelakiku perlahan mulai meninggalkan syair-syair omong kosongnya yang
tak menjanjikan apa-apa itu. Tapi, justru sejak saat itulah suamiku mulai bisa
melihat wajah asli Rabbi.
”Tadi siang aku bertengkar dengannya,” ujar suamiku di sebuah
percakapan menjelang tidur.
Katanya, ia diserahi tugas penting pada sebuah proyek pembuatan
jalan raya alternatif. ”Aku tidak bisa bohong. Aku tidak bisa memelintir
ucapan,“ lanjutnya, setelah bercerita perihal tanah milik beberapa warga yang
harus dibebaskan. Masalah penyunatan harga.
Hari-hari berikutnya kulihat suamiku jadi pendiam. Ia seperti
sedang mengalami tekanan batin. Ia mau bercerita perihal masalah-masalah dalam
pekerjaannya hanya jika aku bertanya saja. Bahwa, tadi ia baru saja
mengantarkan uang pelicin proyek ke pegawai anu,bahwa kemarin ia telah
memergoki penyunatan dana proyek anu,
bahwa ia menyimpan banyak ketaksukaan yang ditekannya dalam hati.
Aku memergokinya lari ke puisi lagi. Tapi, ia tak berani
mengirimkannya ke media cetak. Malu dengan teman-temannya, sewaktu kutanya
mengapa. Ia hanya menumpahkan semua unek-uneknya itu di sebuah buku notes kecil, seperti kebiasannya dahulu.
”Kang Noto ingin pindah kerja?” tanyaku di suatu percakapan
menjelang tidur.
”Tapi, sekolahnya anak-anak nanti bagaimana?”
Dan, aku mulai bisa memahami beban batinnya.
***
Hari-hari berjalan dengan banyak diam. Meski diam, tapi aku bisa
merasakan gelisahnya yang tak juga mengendap. Aku pun ikut berpikir, mencari
jalan keluar. Sampai akhirnya, kuputuskan rela berkorban.
”Jualan makan di pasar? Berapalah itu penghasilannya, Min?“
ujarnya saat kuceritakan penghasilanku yang sudah lumayan. Meski, hasilnya
memang belum bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan.
”Jadi, Kang Noto akan tetap menjadi juru kampanyenya meski tahu
semua kelakukannya?”
Lelaki itu menarik napas berat ketika aku bercerita bahwa tadi
siang di pasar beberapa pengikut Rabby telah bagi-bagi uang demi pencalonan
dirinya sebagai orang nomor satu di kota kami. Tentu saja, kami tahu itu
sesuatu yang salah. Bau busuk langsung menguar. Beberapa orang tetap saja
menerimanya, entah dengan keriangan yang pura-pura ataukah karena benar-benar
mendukungnya.
”Aku anak buahnya, Min. Lantas aku bagaimana?“ ujarnya kemudian
yang terdengar seperti pengakuan atas ketakberdayaannya sendiri.
Kesedihan jadi bertambah. Bahkan, terkadang berubah benci.
Sampai-sampai, kadang aku melihatnya seperti banci. Tak berani pergi dari
tempat yang menguarkan aroma busuk hanya sebab di tempat itu ia bisa bernaung
dan menyangka di luar tak ada tempat lain yang bisa membuatnya bertahan dari
terpa ujian kehidupan. Sayangnya, dia tetap suamiku, seorang ayah yang begitu
ingin anak-anaknya aman dari kekurangan.
Puisi-puisinya yang dulu kusukai menjadi terasa menyebalkan.
Seperti rengekan anak kecil. Suka menyesali dan menyalahkan diri sendiri.
Apalagi, ketika Rabbi akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di kota kami.
Cerita-cerita tentang buruknya kelakuan Rabbi sedikit demi sedikit
terus bertambah dalam ingatanku. Tapi, cerita-cerita itu tidak kudapatkan dari
lelakiku, melainkan dari desas-desus di pasar dan berita-berita koran yang
kemudian menjadi gunjingan ringan para tetangga.
Tentang penggusuran PKL dengan semena-mena, penggerogotan dana
bantuan pemerintah pusat, dan masih banyak lagi. Kupikir, lelakiku juga telah
sama-sama mendengar semua itu. Tapi, entahlah dengan jalan pikirannya.
***
Sepertiga malam yang hening ketika kulihat dia begitu gelisah.
Hatiku menerka. Hatiku mencatatnya. Sebelum pagi harinya kemudian terjadi
kerusuhan itu. Orang-orang yang sudah muak dengan kelakuan Rabbi mulai
bereaksi. Segala bukti kesalahan, baik yang tampak maupun yang masih terselubung
diumbar di muka umum.
Saat mengambil jaketnya di lemari, wajah lelakiku kentara sekali
tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi, yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa dia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa dia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Aku takkan pernah lupa dengan hari itu. Ketika lelakiku pulang
dengan raut merah padam. Karena tak tahan, akhirnya dia pun cerita, ”Tadi siang
kami bertengkar lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang dialah yang
memberiku pekerjaan, yang memberi kita makan….“
Aku langsung mengurut dada, ”Benarkah dia bilang seperti itu?“
Lelakiku diam, tak berselera meneruskan ceritanya.
Rupanya, hari inilah keputusan itu ditetapkan. Siapakah yang
sebenarnya Tuhan.
Sepeninggal lelakiku, aku terus berdoa dalam hati. Semoga Tuhan
memberi ganti kepada kami, anugerah yang lebih baik dari sekarang. []
Kalinyamatan
– Jepara, 2013
Adi Zamzam,
memiliki nama asli Nurhadi. Pria kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, ini pada
2002 beberapa cerpen dan puisinya dipublikasikan di Bahana Sastra RRI Pro II Semarang. Ia juga
menyabet sejumlah penghargaan penulisan cerpen Islami. Seperti, pada 2009 dan
2010 dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE
Selsun Golden Award. Karya-karyanya juga banyak menghiasi surat kabar nasional
ataupun lokal.
SATU demi
satu temanku jatuh sakit. Ada yang sakit berkepanjangan, sakit sebentar, lalu
menemui ajal. Ada yang harus dioperasi, sembuh, lalu meninggal juga. Ada yang
sekarat, namun tetap bersemangat untuk terus eksis sebagai manusia, sebagai
profesional.
Aku sendiri, memasuki usia 60, tak terlalu ingin
ini-itu. Hanya ingin hidupku punya sedikit arti, dan di hari-hari menuju akhir
ini bisa bernapas dengan lancar dan benar. Seumur hidup, baru sekarang aku
diberi kesadaran, betapa pentingnya bisa bernapas. Sebelum ini, aku bernapas
seolah-olah itu kegiatan rutin yang membosankan dan terpaksa harus dilakukan,
karena aku diberi umur untuk hidup? Itu bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab
Sang Pemberi Hidup. Tanggung jawab jantung dan paru-paruku, gen, dan
kromosomku.
Aku sekadar mengikuti. Tak ubahnya sebuah mesin
eksistensial, hanya menjalaninya sesuai sistem yang sudah tersedia untukku,
tanpa boleh memilih atau mengoreksinya. Semuanya sudah terprogram sedemikian
canggihnya.
Ketika tiba-tiba, pada suatu malam, aku merasa
sulit bernapas, dan sepanjang malam hingga pagi dibuat tak bisa tidur, aku
sungguh-sungguh tak habis pikir: bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada
diriku, hidupku, napasku, jantung dan paru-paruku? Aku terhenyak. Aku merasa
dizalimi. Tanpa izinku, tiba-tiba aku dibikin sesak napas. Berkeringat.
Gelisah. Tak bisa tidur. Mimpi buruk!
Apalagi hal itu terus berlanjut hingga esok
hari. Berulang lagi malam harinya. Hidupku amat tersiksa. Kamar dan tempat
tidurku yang empuk dan sejuk pun seolah-olah berubah menjadi sarang hantu yang
dipenuhi tangan-tangan setan pencekik. Aku takut! Untuk pertama kalinya, aku
dibikin begitu takut menghadapi malam! Aku takut menghadapi waktu tidur!
Maka, aku lebih memilih tidur pagi dan siang
hari, supaya kalau malam bisa melotot dan melewatinya tanpa ketakutan. Aku bawa
laptopku ke tempat tidur. Juga buku-bukuku. Kubeli lampu baca supaya lebih
nyaman membaca sambil berbaring. Televisi, mesin pemutar cakram video, koleksi
film, kubawa semua ke lantai atas, ke kamar tidurku. Semuanya disiagakan agar
aku bisa selamat melewati malam tanpa harus terperangkap mimpi buruk.
Gagang tombol kanal televisi selalu ditempatkan
di sebelah bantalku. Dan baru sebulan ini aku menjadi penggila siaran sepak
bola. Aku jadi penggila Lionel Messi dari Barcelona, sekaligus penggila
Cristiano Ronaldo dan Real Madrid. Aku berharap setiap dini hari ada siaran
langsung pertandingan bola, berharap laga-laga Piala Dunia segera dimainkan!
Aku segera konsultasi ke dokter spesialis
jantung karena pertama-tama gejala yang kurasakan adalah jantungku berdetak tak
beraturan. Aku mendapatkan obat pengatur detak jantung dan pelega pernapasan.
Tapi, itu tidak terlalu menolong. Maka, aku pun pergi ke dokter spesialis paru.
Aku dirontgen. Hasilnya, paruku mengalami infeksi dengan banyak bercak lendir.
Jantungku membengkak karena harus bekerja terlalu keras memompa darah ke dalam
paru yang kembang-kempis dengan berat akibat saluran oksigen yang menyempit.
Dokter paru itu memberiku obat pelega pernapasan
yang manjur. Menenggak beberapa obatnya sekali saja, aku bisa bernapas lebih
baik dan jatuh tertidur. Bahkan, kata istriku, aku sudah bisa mengorok lagi.
Satu hal yang sebenarnya tak ingin kuungkapkan di sini adalah fakta ini: aku
sudah menjadi perokok berat sejak remaja. Bahkan, aku menjadi pecandu beberapa
jenis dan merek rokok sekaligus: rokok keretek ringan, rokok keretek berat, dan
rokok putih. Setiap hari aku mengisap tiga jenis rokok secara bergantian,
tergantung suasana mulut dan suasana hati, hingga datangnya hari-hari aku
tercekik setan pernapasan. Oleh karena itu, aku lalu dipaksa berhenti merokok!
Pekan lalu itu, ketika sedang antre menunggu di
depan pintu kamar praktik dokter jantung, dokter Ma’mun, di rumah sakit, aku
dan istriku sempat bertemu dokter anak-anak kami yang sudah begitu karib,
dokter Heru. Melihat dia berjalan ke arah kami, kelihatannya dia baru saja
selesai dinas, aku menyapanya. Melihat kami dengan riang dan hangat seperti
biasanya, dia langsung bertanya:
“Lo, ngapain di sini, Mas? Siapa yang sakit?”
“Aku sesak napas, Dok. Mau periksa jantung,”
kataku.
Dokter Heru langsung duduk dan bertanya penuh
perhatian. Kami jelaskan duduk soalnya. Dia tertawa. “Kalau enggak mau mati
konyol, ya berhentilah merokok!” katanya. “Selain itu, jangan lupa, setiap
siang usahakan bisa tidur sekitar satu atau dua jam. Olahraga lakukan secara
teratur. Aku saja tiap hari olahraga boxing,” katanya lagi.
***
“Ya, ada bocor kecil di jantung,” kata dokter
Ma’mun setelah dengan teliti memeriksaku dengan bantuan alat rekam detak
jantung. “Tapi, tenang saja. Itu tidak akan bikin mati!” katanya.
Kami tertawa.
“Dia merokoknya harus berhenti kan ya, Dok?!”
kata istriku yang begitu benci melihatku tak kunjung berhenti merokok. Padahal,
lebih dari lima tahun lalu kami berjanji berhenti merokok. Istriku berhasil
berhenti merokok, tapi aku terus berlanjut. Istriku berhenti merokok setelah
mengalami sesak napas dan bertemu dokter Ma’mun yang juga menemukan kebocoran
pada jantungnya.
“Memangnya harus ya merokok?” tanya dokter
Ma’mun.
“Ya, enggak harus sih, Dok,” sahutku sambil
menyeringai.
“Lah, kalau enggak harus, kenapa merokok?”
Aku cuma bisa tertawa bodoh.
Ya, ya, ya aku tahu dan aku sadar, sebagai
perokok, aku memang bodoh. Merokok memang bukan suatu keharusan. Hanya
orang-orang bodoh yang sepenuh kesadaran terus merokok dan sengaja tidak mau
berhenti! Padahal, sekarang peringatan di setiap bungkus rokok sudah lebih
langsung memvonis: ‘Merokok Membunuhmu!’
Tapi, begitu banyak lelucon yang membela para
perokok: Tak pernah ada orang mati sambil merokok. Banyak orang mati yang
seumur hidupnya tidak merokok. Banyak orang yang berhenti merokok dan malah
mati. Banyak nenek-nenek dan kakek-kakek yang masih hidup karena terus merokok.
Banyak bayi yang baru lahir mati, padahal mereka belum sempat merokok. Yang
membunuhmu bukan rokok, tapi tsunami, banjir, longsor, bus malam, kereta api,
pesawat terbang, sepeda motor, demam berdarah, HIV, gula, duren, satai kambing!
Tapi, setelah bertemu dokter Heru dan dokter
Ma’mun, dan aku berhasil tidak merokok selama seminggu–itu membuatku merasa
jauh lebih bodoh!–aku heran juga. Ternyata begitu mudah berhenti merokok. Aku
berhasil tidak merokok! Aku kagum juga pada diriku. Kagum campur tolol. Aku
tertawa.
(Jadi, serius nih, tidak mau merokok lagi?)
Diam-diam, tanpa setahu istri dan ketiga anak
kami–yang semuanya sudah menjadi komplotan petugas antirokok yang galak di
rumah–aku coba merokok lagi. Malam itu aku sukses menghabiskan tiga batang
rokok dalam isapan cepat-cepat. Setiap kali berhasil menghabiskan satu batang,
segera aku semprotkan pengharum ruangan. Sebelum naik ke tempat tidur, aku
sikat gigi, cuci muka dengan sabun wangi dan berganti baju tidur. Malam itu,
aku dengan bahagia menyongsong tidurku.
Dan, benar! Malam itu dadaku serasa terbakar!
Dadaku terasa mengeras dan memberat. Aku tercekik lagi. Napasku sesak lagi.
Tidurku jadi mimpi buruk lagi!
Sepanjang malam itu, aku berjuang sendirian.
Sebab, untuk meminta tolong kepada istriku, aku malu.
Aku memasuki pagi dengan wajah pucat pasi, napas
tersengal-sengal, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, pusing. Karena tak
tahan menderita lebih lama, aku segera membuat pengakuan dosa dan memohon
bantuan istriku untuk segera membawaku ke dokter spesialis paru, di rumah sakit
baru, yang lebih dekat dengan rumah kami. Maka, bertemulah aku dengan dokter
Etty, dokter paru yang merontgen dan memberiku obat pelega pernapasan yang
sangat manjur itu.
Seminggu kemudian, aku memilih menjadi manusia
bodoh lagi. Aku uji nyali dan uji paru lagi. Kali ini di pagi hari. Aku coba
kebiasaan lama, setiap hendak nongkrong di kamar mandi, aku bawa sebatang
rokok. Aku menyalakannya sambil berjongkok. Hfffhhh… ternyata
memang….
Sekali lagi, seperti yang kalian duga, tujuh jam
kemudian aku terbangun dari tidur siangku dengan basah keringat. Jantungku
berdegup tak beraturan lagi.
“Kamu kenapa, sesak lagi?“ istriku bertanya
tanpa curiga. Penuh cinta.
“Sesak sih, enggak. Cuma detak jantungnya kacau
lagi,“ kataku. Aku segera ambil alat deteksi tekanan darah digital. Hasilnya:
tensi tinggi dan denyut nadi melebihi normal.
“Aku juga dulu begitu,“ katanya menghibur.
“Tidak apa-apa. Yang penting jangan cemas. Kondisi seperti itu akan berulang
lagi.“
“Oke. Terima kasih, darling,“
kataku.
Aku diam-diam menggunakan penyemprot pelega
pernapasan melalui mulut agar mendapatkan pemulihan segera.
Beberapa waktu kemudian, begitu istriku masuk
lagi ke kamar, dan berdandan di depan cermin, aku memeluknya dari belakang
sambil berbisik, “Kita jadi makan malam di luar, sayangku?“
“Enggak usah, deh. Papa istirahat saja dulu,“
katanya. “Mama takut nanti ada apa-apa.“
“Yo wis… Besok aja ya,“ kataku. “Sekalian
malam mingguan. Makan di restoran Korea, ya.“ Aku lega dan selamat dari bencana.
Malam itu aku naik ke tempat tidur lebih awal.
Aku membawa biografi Einstein, fisikawan perokok yang bisa hidup hingga 76
tahun. Ia menolak dioperasi akibat sakit menahun di perutnya. “Tak ada gunanya
memperpanjang hidup dalam kepalsuan,“ katanya. “Aku sudah menyelesaikan
bagianku. Sekarang saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya dengan elegan.“
Tapi, sungguh, aku cemas napasku tersengal lagi!
Bekasi,
2014
Yudhistira
ANM Massardi adalah sastrawan yang telah berkarya sejak 1977. Kini ia mengelola
sekolah gratis untuk kaum duafa.
sumber lakon hidup
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)