Eksis
Posted by: Unknown Posted date: 10.04 / comment : 0
SATU demi
satu temanku jatuh sakit. Ada yang sakit berkepanjangan, sakit sebentar, lalu
menemui ajal. Ada yang harus dioperasi, sembuh, lalu meninggal juga. Ada yang
sekarat, namun tetap bersemangat untuk terus eksis sebagai manusia, sebagai
profesional.
Aku sendiri, memasuki usia 60, tak terlalu ingin
ini-itu. Hanya ingin hidupku punya sedikit arti, dan di hari-hari menuju akhir
ini bisa bernapas dengan lancar dan benar. Seumur hidup, baru sekarang aku
diberi kesadaran, betapa pentingnya bisa bernapas. Sebelum ini, aku bernapas
seolah-olah itu kegiatan rutin yang membosankan dan terpaksa harus dilakukan,
karena aku diberi umur untuk hidup? Itu bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab
Sang Pemberi Hidup. Tanggung jawab jantung dan paru-paruku, gen, dan
kromosomku.
Aku sekadar mengikuti. Tak ubahnya sebuah mesin
eksistensial, hanya menjalaninya sesuai sistem yang sudah tersedia untukku,
tanpa boleh memilih atau mengoreksinya. Semuanya sudah terprogram sedemikian
canggihnya.
Ketika tiba-tiba, pada suatu malam, aku merasa
sulit bernapas, dan sepanjang malam hingga pagi dibuat tak bisa tidur, aku
sungguh-sungguh tak habis pikir: bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada
diriku, hidupku, napasku, jantung dan paru-paruku? Aku terhenyak. Aku merasa
dizalimi. Tanpa izinku, tiba-tiba aku dibikin sesak napas. Berkeringat.
Gelisah. Tak bisa tidur. Mimpi buruk!
Apalagi hal itu terus berlanjut hingga esok
hari. Berulang lagi malam harinya. Hidupku amat tersiksa. Kamar dan tempat
tidurku yang empuk dan sejuk pun seolah-olah berubah menjadi sarang hantu yang
dipenuhi tangan-tangan setan pencekik. Aku takut! Untuk pertama kalinya, aku
dibikin begitu takut menghadapi malam! Aku takut menghadapi waktu tidur!
Maka, aku lebih memilih tidur pagi dan siang
hari, supaya kalau malam bisa melotot dan melewatinya tanpa ketakutan. Aku bawa
laptopku ke tempat tidur. Juga buku-bukuku. Kubeli lampu baca supaya lebih
nyaman membaca sambil berbaring. Televisi, mesin pemutar cakram video, koleksi
film, kubawa semua ke lantai atas, ke kamar tidurku. Semuanya disiagakan agar
aku bisa selamat melewati malam tanpa harus terperangkap mimpi buruk.
Gagang tombol kanal televisi selalu ditempatkan
di sebelah bantalku. Dan baru sebulan ini aku menjadi penggila siaran sepak
bola. Aku jadi penggila Lionel Messi dari Barcelona, sekaligus penggila
Cristiano Ronaldo dan Real Madrid. Aku berharap setiap dini hari ada siaran
langsung pertandingan bola, berharap laga-laga Piala Dunia segera dimainkan!
Aku segera konsultasi ke dokter spesialis
jantung karena pertama-tama gejala yang kurasakan adalah jantungku berdetak tak
beraturan. Aku mendapatkan obat pengatur detak jantung dan pelega pernapasan.
Tapi, itu tidak terlalu menolong. Maka, aku pun pergi ke dokter spesialis paru.
Aku dirontgen. Hasilnya, paruku mengalami infeksi dengan banyak bercak lendir.
Jantungku membengkak karena harus bekerja terlalu keras memompa darah ke dalam
paru yang kembang-kempis dengan berat akibat saluran oksigen yang menyempit.
Dokter paru itu memberiku obat pelega pernapasan
yang manjur. Menenggak beberapa obatnya sekali saja, aku bisa bernapas lebih
baik dan jatuh tertidur. Bahkan, kata istriku, aku sudah bisa mengorok lagi.
Satu hal yang sebenarnya tak ingin kuungkapkan di sini adalah fakta ini: aku
sudah menjadi perokok berat sejak remaja. Bahkan, aku menjadi pecandu beberapa
jenis dan merek rokok sekaligus: rokok keretek ringan, rokok keretek berat, dan
rokok putih. Setiap hari aku mengisap tiga jenis rokok secara bergantian,
tergantung suasana mulut dan suasana hati, hingga datangnya hari-hari aku
tercekik setan pernapasan. Oleh karena itu, aku lalu dipaksa berhenti merokok!
Pekan lalu itu, ketika sedang antre menunggu di
depan pintu kamar praktik dokter jantung, dokter Ma’mun, di rumah sakit, aku
dan istriku sempat bertemu dokter anak-anak kami yang sudah begitu karib,
dokter Heru. Melihat dia berjalan ke arah kami, kelihatannya dia baru saja
selesai dinas, aku menyapanya. Melihat kami dengan riang dan hangat seperti
biasanya, dia langsung bertanya:
“Lo, ngapain di sini, Mas? Siapa yang sakit?”
“Aku sesak napas, Dok. Mau periksa jantung,”
kataku.
Dokter Heru langsung duduk dan bertanya penuh
perhatian. Kami jelaskan duduk soalnya. Dia tertawa. “Kalau enggak mau mati
konyol, ya berhentilah merokok!” katanya. “Selain itu, jangan lupa, setiap
siang usahakan bisa tidur sekitar satu atau dua jam. Olahraga lakukan secara
teratur. Aku saja tiap hari olahraga boxing,” katanya lagi.
***
“Ya, ada bocor kecil di jantung,” kata dokter
Ma’mun setelah dengan teliti memeriksaku dengan bantuan alat rekam detak
jantung. “Tapi, tenang saja. Itu tidak akan bikin mati!” katanya.
Kami tertawa.
“Dia merokoknya harus berhenti kan ya, Dok?!”
kata istriku yang begitu benci melihatku tak kunjung berhenti merokok. Padahal,
lebih dari lima tahun lalu kami berjanji berhenti merokok. Istriku berhasil
berhenti merokok, tapi aku terus berlanjut. Istriku berhenti merokok setelah
mengalami sesak napas dan bertemu dokter Ma’mun yang juga menemukan kebocoran
pada jantungnya.
“Memangnya harus ya merokok?” tanya dokter
Ma’mun.
“Ya, enggak harus sih, Dok,” sahutku sambil
menyeringai.
“Lah, kalau enggak harus, kenapa merokok?”
Aku cuma bisa tertawa bodoh.
Ya, ya, ya aku tahu dan aku sadar, sebagai
perokok, aku memang bodoh. Merokok memang bukan suatu keharusan. Hanya
orang-orang bodoh yang sepenuh kesadaran terus merokok dan sengaja tidak mau
berhenti! Padahal, sekarang peringatan di setiap bungkus rokok sudah lebih
langsung memvonis: ‘Merokok Membunuhmu!’
Tapi, begitu banyak lelucon yang membela para
perokok: Tak pernah ada orang mati sambil merokok. Banyak orang mati yang
seumur hidupnya tidak merokok. Banyak orang yang berhenti merokok dan malah
mati. Banyak nenek-nenek dan kakek-kakek yang masih hidup karena terus merokok.
Banyak bayi yang baru lahir mati, padahal mereka belum sempat merokok. Yang
membunuhmu bukan rokok, tapi tsunami, banjir, longsor, bus malam, kereta api,
pesawat terbang, sepeda motor, demam berdarah, HIV, gula, duren, satai kambing!
Tapi, setelah bertemu dokter Heru dan dokter
Ma’mun, dan aku berhasil tidak merokok selama seminggu–itu membuatku merasa
jauh lebih bodoh!–aku heran juga. Ternyata begitu mudah berhenti merokok. Aku
berhasil tidak merokok! Aku kagum juga pada diriku. Kagum campur tolol. Aku
tertawa.
(Jadi, serius nih, tidak mau merokok lagi?)
Diam-diam, tanpa setahu istri dan ketiga anak
kami–yang semuanya sudah menjadi komplotan petugas antirokok yang galak di
rumah–aku coba merokok lagi. Malam itu aku sukses menghabiskan tiga batang
rokok dalam isapan cepat-cepat. Setiap kali berhasil menghabiskan satu batang,
segera aku semprotkan pengharum ruangan. Sebelum naik ke tempat tidur, aku
sikat gigi, cuci muka dengan sabun wangi dan berganti baju tidur. Malam itu,
aku dengan bahagia menyongsong tidurku.
Dan, benar! Malam itu dadaku serasa terbakar!
Dadaku terasa mengeras dan memberat. Aku tercekik lagi. Napasku sesak lagi.
Tidurku jadi mimpi buruk lagi!
Sepanjang malam itu, aku berjuang sendirian.
Sebab, untuk meminta tolong kepada istriku, aku malu.
Aku memasuki pagi dengan wajah pucat pasi, napas
tersengal-sengal, berkeringat dingin, mata berkunang-kunang, pusing. Karena tak
tahan menderita lebih lama, aku segera membuat pengakuan dosa dan memohon
bantuan istriku untuk segera membawaku ke dokter spesialis paru, di rumah sakit
baru, yang lebih dekat dengan rumah kami. Maka, bertemulah aku dengan dokter
Etty, dokter paru yang merontgen dan memberiku obat pelega pernapasan yang
sangat manjur itu.
Seminggu kemudian, aku memilih menjadi manusia
bodoh lagi. Aku uji nyali dan uji paru lagi. Kali ini di pagi hari. Aku coba
kebiasaan lama, setiap hendak nongkrong di kamar mandi, aku bawa sebatang
rokok. Aku menyalakannya sambil berjongkok. Hfffhhh… ternyata
memang….
Sekali lagi, seperti yang kalian duga, tujuh jam
kemudian aku terbangun dari tidur siangku dengan basah keringat. Jantungku
berdegup tak beraturan lagi.
“Kamu kenapa, sesak lagi?“ istriku bertanya
tanpa curiga. Penuh cinta.
“Sesak sih, enggak. Cuma detak jantungnya kacau
lagi,“ kataku. Aku segera ambil alat deteksi tekanan darah digital. Hasilnya:
tensi tinggi dan denyut nadi melebihi normal.
“Aku juga dulu begitu,“ katanya menghibur.
“Tidak apa-apa. Yang penting jangan cemas. Kondisi seperti itu akan berulang
lagi.“
“Oke. Terima kasih, darling,“
kataku.
Aku diam-diam menggunakan penyemprot pelega
pernapasan melalui mulut agar mendapatkan pemulihan segera.
Beberapa waktu kemudian, begitu istriku masuk
lagi ke kamar, dan berdandan di depan cermin, aku memeluknya dari belakang
sambil berbisik, “Kita jadi makan malam di luar, sayangku?“
“Enggak usah, deh. Papa istirahat saja dulu,“
katanya. “Mama takut nanti ada apa-apa.“
“Yo wis… Besok aja ya,“ kataku. “Sekalian
malam mingguan. Makan di restoran Korea, ya.“ Aku lega dan selamat dari bencana.
Malam itu aku naik ke tempat tidur lebih awal.
Aku membawa biografi Einstein, fisikawan perokok yang bisa hidup hingga 76
tahun. Ia menolak dioperasi akibat sakit menahun di perutnya. “Tak ada gunanya
memperpanjang hidup dalam kepalsuan,“ katanya. “Aku sudah menyelesaikan
bagianku. Sekarang saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya dengan elegan.“
Tapi, sungguh, aku cemas napasku tersengal lagi!
Bekasi,
2014
Yudhistira
ANM Massardi adalah sastrawan yang telah berkarya sejak 1977. Kini ia mengelola
sekolah gratis untuk kaum duafa.
sumber lakon hidup
About Unknown
Shahibul Arfin adalah Direktur di "SAC" (Shahibul Arifin Center)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar: