Home
»
Bisnis
»
Budaya
»
Cerpen
»
Hukum
»
Kesehatan
»
Politik
»
Sosial
»
Teknologi
» Ketika Rabbi diTurunkan
Ketika Rabbi diTurunkan
Posted by: Unknown Posted date: 10.06 / comment : 0
Cerpen Adi Zamzam (Republika, 2 Maret
2014)
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa ia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Lelaki itu tak peduli. Bergegas keluar meninggalkan diriku yang
mulai digulung kecemasan.
***
Pertemanan suamiku dengan Rabbi konon sudah sejak SMP. Mereka
sama-sama bintang dalam satu tim basket dan voli yang hampir-hampir tak
terkalahkan di sekolah. Mereka sahabat dekat. Tapi, mereka memiliki perbedaan
yang jauh sekali.
Suamiku seorang yang susah bergaul, teman akrabnya sedikit, kutu
buku, penyuka sastra, bahkan sampai sekarang sebagian penghasilannya merupakan
imbas dari kiprahnya sebagai salah seorang sastrawan kecil di negeri ini.
Beda dengan Rabbi, yang katanya pandai bergaul dan punya banyak
teman di sana-sini. Sejak SMP dia sudah dikenal suka dengan namanya organisasi.
Dua kali dia menjadi ketua OSIS. Konon, sewaktu SMA kisahnya juga tak beda jauh
dengan semasa SMP. Jadi, kalau kemudian dia cemerlang di sebuah partai politik,
tentu itu bukanlah hal yang mengherankan.
Setelah 20 tahun lebih tak bersua, akhirnya suamiku dipertemukan
dengannya dalam sebuah kejadian yang mengharukan.
Suamiku mencari kerja. Singkat cerita, dia pun mendapatkan
pekerjaan sebagai kuli angkut. Jika saja saat itu dia tidak pingsan saat
memindahkan benih-benih jati ke atas truk, mungkin pertemuan itu takkan
terjadi. Saat itu, suamiku sedang puasa Senin-Kamis. Insiden itu menghentikan
sejenak sebagian pekerja. Kebetulan, Rabbi sedang meninjau poryek kecilnya itu.
Mendengar keriuhan kecil itu, dia pun langsung mendatangi. Takdir pun berjalan.
Suamiku bercerita, katanya Rabbi sudah tak seperti dulu lagi.
Tentu saja, 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah siapa pun. Lambat
laun, dia pun menceritakan perihal semua perubahan yang semula hanya ia dengar
dari teman-teman sepekerjaannya. Kata mereka, Rabbi itu pelit, perhitungan
sekali, kadang-kadang jika sedang ”kumat“ suka menyunat upah, bahkan konon tak
cuma sekali dua kali menendang pekerjanya yang berani mericuhinya.
”Tapi, aku masih belum percaya kalau dia seperti itu. Aku
melihatnya masih seperti dulu. Dia baik kepadaku. Buktinya, sewaktu aku pingsan
kemarin dia sendiri yang membawaku ke puskesmas dan menanggung semua biayanya,“
ceritanya dengan mata menerawang.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
”Semasa sekolah dulu, dia anak yang baik,“ seolah ingin meyakinkan
dirinya sendiri.
Dan, hari-hari berikutnya suamiku pun mulai rekat dengan Rabbi.
Mengerti bahwa suamiku punya kecerdasan, Rabbi pun perlahan memberinya
kepercayaan dalam pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai berani
memercayakan satu dua proyek yang berskala kecil. Aku sedikit bernapas lega
ketika lelakiku perlahan mulai meninggalkan syair-syair omong kosongnya yang
tak menjanjikan apa-apa itu. Tapi, justru sejak saat itulah suamiku mulai bisa
melihat wajah asli Rabbi.
”Tadi siang aku bertengkar dengannya,” ujar suamiku di sebuah
percakapan menjelang tidur.
Katanya, ia diserahi tugas penting pada sebuah proyek pembuatan
jalan raya alternatif. ”Aku tidak bisa bohong. Aku tidak bisa memelintir
ucapan,“ lanjutnya, setelah bercerita perihal tanah milik beberapa warga yang
harus dibebaskan. Masalah penyunatan harga.
Hari-hari berikutnya kulihat suamiku jadi pendiam. Ia seperti
sedang mengalami tekanan batin. Ia mau bercerita perihal masalah-masalah dalam
pekerjaannya hanya jika aku bertanya saja. Bahwa, tadi ia baru saja
mengantarkan uang pelicin proyek ke pegawai anu,bahwa kemarin ia telah
memergoki penyunatan dana proyek anu,
bahwa ia menyimpan banyak ketaksukaan yang ditekannya dalam hati.
Aku memergokinya lari ke puisi lagi. Tapi, ia tak berani
mengirimkannya ke media cetak. Malu dengan teman-temannya, sewaktu kutanya
mengapa. Ia hanya menumpahkan semua unek-uneknya itu di sebuah buku notes kecil, seperti kebiasannya dahulu.
”Kang Noto ingin pindah kerja?” tanyaku di suatu percakapan
menjelang tidur.
”Tapi, sekolahnya anak-anak nanti bagaimana?”
Dan, aku mulai bisa memahami beban batinnya.
***
Hari-hari berjalan dengan banyak diam. Meski diam, tapi aku bisa
merasakan gelisahnya yang tak juga mengendap. Aku pun ikut berpikir, mencari
jalan keluar. Sampai akhirnya, kuputuskan rela berkorban.
”Jualan makan di pasar? Berapalah itu penghasilannya, Min?“
ujarnya saat kuceritakan penghasilanku yang sudah lumayan. Meski, hasilnya
memang belum bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan.
”Jadi, Kang Noto akan tetap menjadi juru kampanyenya meski tahu
semua kelakukannya?”
Lelaki itu menarik napas berat ketika aku bercerita bahwa tadi
siang di pasar beberapa pengikut Rabby telah bagi-bagi uang demi pencalonan
dirinya sebagai orang nomor satu di kota kami. Tentu saja, kami tahu itu
sesuatu yang salah. Bau busuk langsung menguar. Beberapa orang tetap saja
menerimanya, entah dengan keriangan yang pura-pura ataukah karena benar-benar
mendukungnya.
”Aku anak buahnya, Min. Lantas aku bagaimana?“ ujarnya kemudian
yang terdengar seperti pengakuan atas ketakberdayaannya sendiri.
Kesedihan jadi bertambah. Bahkan, terkadang berubah benci.
Sampai-sampai, kadang aku melihatnya seperti banci. Tak berani pergi dari
tempat yang menguarkan aroma busuk hanya sebab di tempat itu ia bisa bernaung
dan menyangka di luar tak ada tempat lain yang bisa membuatnya bertahan dari
terpa ujian kehidupan. Sayangnya, dia tetap suamiku, seorang ayah yang begitu
ingin anak-anaknya aman dari kekurangan.
Puisi-puisinya yang dulu kusukai menjadi terasa menyebalkan.
Seperti rengekan anak kecil. Suka menyesali dan menyalahkan diri sendiri.
Apalagi, ketika Rabbi akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di kota kami.
Cerita-cerita tentang buruknya kelakuan Rabbi sedikit demi sedikit
terus bertambah dalam ingatanku. Tapi, cerita-cerita itu tidak kudapatkan dari
lelakiku, melainkan dari desas-desus di pasar dan berita-berita koran yang
kemudian menjadi gunjingan ringan para tetangga.
Tentang penggusuran PKL dengan semena-mena, penggerogotan dana
bantuan pemerintah pusat, dan masih banyak lagi. Kupikir, lelakiku juga telah
sama-sama mendengar semua itu. Tapi, entahlah dengan jalan pikirannya.
***
Sepertiga malam yang hening ketika kulihat dia begitu gelisah.
Hatiku menerka. Hatiku mencatatnya. Sebelum pagi harinya kemudian terjadi
kerusuhan itu. Orang-orang yang sudah muak dengan kelakuan Rabbi mulai
bereaksi. Segala bukti kesalahan, baik yang tampak maupun yang masih terselubung
diumbar di muka umum.
Saat mengambil jaketnya di lemari, wajah lelakiku kentara sekali
tegangnya.
”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti
dengan pertanyaan kecemasan.
”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi, yang pasti kami harus
melindunginya,“ seperti ada nada sedih.
”Meskipun sudah jelas bahwa dia bersalah?“
”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat
kegamangan di kedua matanya.
”Tentu saja aku ingat, Kang. Bahwa dia pernah berlagak seperti
Tuhan,“ ketusku.
Aku takkan pernah lupa dengan hari itu. Ketika lelakiku pulang
dengan raut merah padam. Karena tak tahan, akhirnya dia pun cerita, ”Tadi siang
kami bertengkar lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena memang dialah yang
memberiku pekerjaan, yang memberi kita makan….“
Aku langsung mengurut dada, ”Benarkah dia bilang seperti itu?“
Lelakiku diam, tak berselera meneruskan ceritanya.
Rupanya, hari inilah keputusan itu ditetapkan. Siapakah yang
sebenarnya Tuhan.
Sepeninggal lelakiku, aku terus berdoa dalam hati. Semoga Tuhan
memberi ganti kepada kami, anugerah yang lebih baik dari sekarang. []
Kalinyamatan
– Jepara, 2013
Adi Zamzam,
memiliki nama asli Nurhadi. Pria kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, ini pada
2002 beberapa cerpen dan puisinya dipublikasikan di Bahana Sastra RRI Pro II Semarang. Ia juga
menyabet sejumlah penghargaan penulisan cerpen Islami. Seperti, pada 2009 dan
2010 dua buah cerpen menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE
Selsun Golden Award. Karya-karyanya juga banyak menghiasi surat kabar nasional
ataupun lokal.
About Unknown
Shahibul Arfin adalah Direktur di "SAC" (Shahibul Arifin Center)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar: